Sabtu, 29 Maret 2008
merokok dapat menyebabkan kanker
Jangan berlaku sembrono dengan gejala kanker. Sebab, jika tidak terdeteksi dini maka semua tindakan sudah terlambat, apalagi jika diketahui saat sudah stadium lanjut. Bagi kita, yang terpenting adalah upaya pencegahannya dengan menjaga gaya hidup sehat. Jangan merokok, maka Anda mengurangi risiko terkena kanker paru.... Kanker bisa disembuhkan jika terdeteksi dini. Oleh karena itu, jangan takut memeriksakan diri, kata dokter spesialis paru, Anwar Jusuf, dalam lokakarya kanker paru di Jakarta, Rabu (13/12). Lokakarya ini merupakan rangkaian program Deteksi Awal Kanker (DeTAK). Kanker paru adalah pertumbuhan sel yang tidak normal dalam paru yang membelah dan tumbuh tidak terkendali, dan akhirnya menyebar dan tumbuh di luar organ paru. Kanker paru yang pertama tumbuh di paru disebut tumor paru primer dan yang tumbuh di organ lain disebut metastasis. Kanker ini adalah penyakit gen yang hingga sekarang masih menjadi masalah besar. Sebab, belum diketahui secara pasti bagaimana proses berubahnya sel normal menjadi sel ganas dan berkembang dengan cepat dalam tubuh seseorang. Kanker kini banyak ditemukan paling banyak pada mereka yang berusia produktif di atas 40 tahun, dan saat ini kecenderungan meningkat pada usia lebih muda dan pada perempuan.Tanpa gejala Kanker ini sulit ditemukan pada tahap awal karena sering tanpa gejala yang jelas. Namun,menurut Anwar Jusuf, jika Anda merasa lelah, aktivitas menurun, batuk dan sesak napas, itu bagian dari tanda-tanda patut diwaspadai. Juga bila Anda mengalami penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, nyeri di dada, dan batuk darah, maka Anda pun harus mencurigainya sebagai kanker paru. "Gejala-gejalanya hampir sama dengan tuberkulosis. Karena itu, dokter yang memeriksa harus lebih teliti dan waspada," ujar Anwar Jusuf. Salah seorang pasien kanker paru yang sudah sembuh, Lidia Kartika Sari (59), menuturkan bahwa ia bisa sembuh karena ia bersedia dikemoterapi. Januari 2006, ia merasa sakit di bagianbelakang tubuhnya, dan pada Februari ia sempat dirontgen. Tak lama kemudian dia dirujuk kepada dokter spesialis paru. "Saya pun ke Rumah Sakit Persahabatan untuk CT Scan. Ternyata, saya dibiopsi dan ada tumor ganas. Keluarga saya tidak menerimanya dan mengecek ke Singapura untuk memastikan. Saya dibiopsi ulang di sana, ternyata kanker ganas tidak bisa dioperasi," papar Lidia. Kemudian, Lidia pun menjalani kemoterapi hingga enam kali. Saat kemoterapi kedua pada bulan Maret, kankernya berkurang 50 persen. Namun, kejutan berarti ia rasakan seusai kemoterapi keenam lantaran kankernya berkurang hingga 98persen. "Dokter menyarankan untuk operasi, tetapi saya takut. Pikir saya, kalau Tuhan mengangkat yang 98 persen, pasti Tuhan juga akan angkat yang dua persen. Saya pasrah saja. Setelah kemoterapi yang keenam, rambut saya mulai tumbuh lagi," kata Lidia, yang kini telah sehat. Rangkaian kemoterapi yang dijalani Lidia merupakan respons positif yang tidak semua orang bisa melakukannya. Bisa jadi karena ketiadaan biaya ataupun takut, padahal kemoterapi bisa mengecilkan sel kanker, walaupun ada efek samping karena kemoterapi pun bisa menghancurkan sel lainnya. Yang terpenting untuk mencegah kanker paru saat ini adalah mengurangi kegiatan merokok karena kandungan zat yang berbahaya ada di asap rokok. Saat rokok dibakar terjadi oksidasi pada tembakau dan keluar bahan karsinogen yang memicu kanker. Dalam waktu 10-20 tahun, perokok berisiko terkena kanker paru.Angkutan umum Tidak hanya perokoknya saja yang berisiko, anak-anak yang orangtuanya merokok, para istri yang suaminya merokok, para penumpang angkutan umum yang tidak merokok (menjadi perokok pasif) bisa juga terkena kanker paru. Udara yang tercemar polusi dan asap knalpot kendaraan pun harus dihindari, selain-tentu saja-kita harus berupaya hidup sehat, menjaga gaya hidup dan pola makan dengan mengonsumsi makanan segar. Berolahraga teratur pun mesti dilakukan supaya terhindar dari kanker.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar